Proses Kreatif Cerpen Nakhoda Sekoci

Proses Kreatif Cerpen Nakhoda Sekoci

Cerpen ini telah menjadi juara 1 dalam perhelatan Lomba Penulisan Cerita Pendek Reuni Akbar Ikatan Alumni Nasional STAN (IKANAS STAN) 2019 dan kemudian diterbitkan menjadi buku antologi cerpen berjudul Pulang.

Meskipun ini bukan cerpen pertama saya, saya juga bukan penulis cerpen yang intens, namun saya akui bahwa saya termasuk penikmat cerpen dan ingin menjadi penulis cerpen yang baik.

Cerpen saya sebelum ini berjudul Guru Ngaji di Surau juga terpilih menjadi TOP 10 penulisan cerpen dalam rangka hari Pahlawan yang diselenggarakan oleh Komunitas Fiksi Kompasiana.

Dulu, di kala menempuh kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, salah satu cerpen saya juga terpilih untuk diterbitkan menjadi buku antologi cerpen berjudul Ibu di medio tahun 2008. Cerpen saya yang lain juga pernah memenangkan juara 2 Lomba Penulisan Cerpen yang diselenggarakan oleh Pengurus Masjid Baitul Maal, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Bagaimana proses kreatif penulisan cerpen kali ini?

Saat pertama kali mendapati adanya lomba penulisan Cerpen oleh IKANAS dengan tema Pulang, terus terang saya tertarik untuk mengikuti, dan salah satu pendorong motivasinya adalah hadiah yang cukup besar. Nanti akan saya ceritakan, saya gunakan untuk apa hadiah hasil menang lomba cerpen ini.

Tema yang dilombakan adalah Pulang. Tema yang memang menjadi impian kami semua para mahasiswa rantau di STAN yang berasal dari segala penjuru Nusantara.

Saat membaca tema itu, saya sedang menuntaskan membaca buku antologi flash fiction tulisan Adi K. berjudul Cermin Dua Arah. Buku ini saya akui mempengaruhi cara saya menulis dan mengambil pokok cerita yang saya gunakan dalam menulis cerpen Nakhoda Sekoci, yakni kematian dan surealis.

Saat membaca buku ini, terus terang saya merasakan letupan-letupan esktase dan berdecak kagum bagaimana deretan kata-kata saja dapat mengoyak-koyak benak pembaca, sekaligus menghadirkan bahwa kematian adalah hal yang biasa dan bisa dirayakan.

Maka, merayakan kematian inilah yang saya jadikan tema sentral cerpen Nakhoda Sekoci.

Jika saya tidak salah ingat (karena sudah setahun lalu), saya menuntaskan cerpen ini dalam waktu 5 hari mulai dari awal hingga selesai proses editing dan siap dikirimkan, tepat beberapa menit menjelang batas pengiriman terakhir lomba.

Di awal cerita, saya mengambil fragmen pengalaman saya pribadi sebagai mahasiswa STAN dan mengerti betul apa nuansa-nuansa anak STAN dan para alumni STAN. Latar dan konteks masa perkuliahan selama di STAN memang menjadi bagian persyaratan cerpen juga yang harus dipenuhi oleh seluruh peserta.

Termasuk cerita harapan dan kematian seorang Bapak yang tersirat dalam cerpen tersebut, adalah fragmen kisah saya pribadi, tentu dengan sedikit poles secukupnya.

Klimaks cerita saya gunakan kejadian (based on true story) pegawai Ditjen Pajak di Pulau Nias yang harus merenggut nyawa di kala menjalankan tugas penagihan pajak. Cerita ini sempat heboh dan banyak dibahas di kalangan para alumni STAN karena tempat yang bersangkutan bekerja adalah tempat dimana alumni STAN banyak berkarya pasca kelulusan.

Saya menggunakan teknik bercerita padat dengan lompatan-lompatan alur cerita. Saya menemukan cara bercerita ini di salah satu cerpen yang saya baca, namun saya sudah lupa cerpen yang mana. Yang jelas, kala membaca cerpen tersebut, saya dibuat takjub dan baru memahami bahwa sebuah cerpen bisa diolah sedemikian kreatif memainkan plot-plot kejadian yang tampak tak terhubung namun berkelindan di akhir kisah.

Cara bercerita yang jelas jauh berbeda dengan yang pernah diungkapkan oleh guru Bahasa Indonesia saya kala masih sekolah dulu yang serba datar dan membosankan.

Saya belum bisa membandingkan dengan cerpen peserta yang lain mengapa cerpen saya terpilih menjadi juara 1, namun tebakan saya, cerpen lain kemungkinan berkutat pada kerinduan untuk pulang ke kampung halaman, suatu impian yang memang memenuhi hampir kebanyakan para STANers.

Saya juga melakukan riset kecil untuk melengkapi fakta yang agar tampak realistis mengenai berapa harga tiket kapal yang dapat mengantarkan orang dari daratan Sumatera menuju ke Pulau Nias, pelabuhan mana yang digunakan, dan pukul berapa biasanya jadwal keberangkatan.

Terkait prosesi naik kapal dan apa-apa saja yang biasa dialami oleh penumpang kapal, saya gunakan ingatan dan pengalaman saya saat menyeberangi lautan beberapa kali ke Pulau Madura, Pulau Bali, Pulau Belitung, dan Pulau Seliu. Saya mengeksploitasi kemungkinan setiap indera bereaksi terhadap sekitarnya, dan pengalaman ini juga yang menurut saya akan menarik untuk diceritakan kembali, baik kepada orang yang belum pernah naik Kapal, maupun yang sesekali naik Kapal.

Maka puncaknya adalah “Dipupusi na mate na mangolu.” sebuah peribahasa orang Batak yang saya cari di internet dan pilih yang paling pas dimunculkan dalam rangkaian cerita. Kemunculan peribahasa ini pun diracik dengan theater of mind dari tokoh utama yang harus mengeluarkan kencing setelah semalaman di tahan dan harus bergelut dengan bau pesing kamar mandi khas kendaraan umum tingkat semenjana.

Saat saya menuliskan adegan ini pun, saya ikut merasakan betul kondisi tokoh utama (hal yang sering saya alami sendiri kala dulu harus kencing di kereta api setiap pulang mudik kuliah STAN dari Jakarta ke Surabaya).

Di akhir cerita, saya memberikan efek kejut dengan menghubungkan akhir cerita dengan pembuka cerita yang tampaknya tak berhubungan apa-apa selama di tengah cerita. Di penutup cerita ini, saya juga gunakan gaya bertutur Adi K. dalam salah satu flash fictionnya yang menderetkan angka dengan cara membilangkannya, alih-alih menuliskan secara langsung menggunakan simbol angka.

Jika Anda penasaran, silakan menikmati cerpen saya Nakhoda Sekoci di laman birokratmenulis.

 

NB: Jika Anda masih penasaran, hadiah pemenang cerpen ini saya gunakan untuk apa? Saya gunakan untuk membeli satu set buku (12 jilid) novel syarah Serat Centhini karya alumni filsafat UGM sekaligus santri Agus Wahyudi. Cerita tentang buku ini semoga bisa saya tulis di lain waktu.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *