Buku Catatan untuk Calon Penulis

Buku Catatan untuk Calon Penulis

Setiap pembaca yang baik, pasti dia tertantang untuk naik ke level selanjutnya: menjadi penulis yang baik. Saya pun demikian, tertantang untuk menjadi penulis yang baik. Impian besarnya sih seperti kebanyakan penulis baru lainnya: memiliki karya berupa buku yang memberikan dampak besar bagi pembaca. Menjadi amal jariyah si penulis.

Seingat saya, buku tetang kepenulisan yang pertama kali saya miliki adalah buku berjudul Mengikat Makna karya Hernowo (alm). Saya membelinya saat pertama kali kuliah di Surabaya. Inti bukunya adalah: menulis adalah mengikat makna dari perjumpaan kita dengan kehidupan untuk menjadi dokumentasi pelajaran yang bisa kita ambil. Setiap interaksi kita dengan kehidupan, benak kita pasti menafsirkan dan mengambil makna tertentu sesuai dengan kapasitas yang kita miliki. Maka, menulis adalah jalan terbaik untuk mengabadikannya.

Namun apa efek terhadap keahlian saya menulis? Tidak terlalu berimpact!

Kali ini, saya sedang bermaksud menulis tentang buku terbaik yang benar-benar berpengaruh terhadap produktivitas saya menulis: Buku Catatan untuk Calon Penulis karya Phutut EA.

Buku ini hanyalah berisi quote-quote pribadi penulis yang merupakan kristalisasi pengalamannya terkait kepenulisan, mengajar menulis, ditanyai tentang menulis, dan segala rupa terkait tips dan trik menulis. Intinya adalah: jika ingin jadi penulis ya menulis saja.

Masalah utama seorang penulis adalah menulis. Maka mulailah menulis. Menulis tentang apa saja. Bebaskan diri Anda. Hilangkan semua kekhawatiran. Hapus cepat kata ‘jangan-jangan’ dari pikiran Anda. Mulailah…

Itu salah satu quote yang ada di dalamnya. Berisi setidaknya 20 quotes berpasangan (total 40) yang benar-benar membebaskan beban seorang penulis untuk menulis.

Kritik, sanjungan, dan penghargaan itu bisa penting dan tidak penting bagi seorang penulis. Kalau semua itu membuatmu tertekan, maka abaikanlah.

Quote ini yang kemudian dapat memicu saya untuk menantang diri sendiri menulis setiap hari dan menghasilkan 1 tulisan layak baca setiap hari. Dus… berhasil juga, setidaknya saya bisa memaksa diri untuk menulis selama 21 hari tanpa putus yang saya posting di Kompasiana. Sebarnya target saya adalah menulis secara maraton selama 41 hari tanpa putus. Namun ternyata harus berhenti di tengah jalan.

Buku ini menarik, alih-alih membebani para calon penulis (sesuai dengan judul bukunya) dengan beragam teori tentang kepenulisan, Phutut EA mengajak untuk: menulis saja! Menulis apapun dan nikmati sendiri dulu tulisanmu sebelum dapat dinikmati oleh orang lain.

Sesungguhnya yang Anda perlukan hanyalah duduk, diam, lalu mulailah menulis. Menulis. Dan menulis.

Buku ini memang lebih bisa difungsikan sebagai buku catatan (notebook) karena lebih banyak halaman kosongnya daripada halaman berisi tulisan. Dan memang benar, untuk menulis kan kita memerlukan kertas kosong, bukan kertas yang sudah penuh tulisan orang lain?

Jika Anda ingin menjadi penulis dan telah mengikuti pelatihan atau membaca banyak referensi tentang teknik menulis, namun tidak kunjung juga memproduksi tulisan, maka buku ini layak Anda jadikan ‘teman menulis’. Layaknya teman, buku ini tidak sedang menggurui, tidak menuntut, dan tidak membebani. Buku ini ‘hanya’ menemani Anda duduk di samping saat Anda mulai menulis, dan menjadi pengingat bahwa untuk menjadi penulis itu satu saja kuncinya: MENULIS!